[PERS] Ketika Perang Terhadap Rokok Didengungkan Bea dan Cukai, Temukan Home Industry Ilegal Berproduksi Ribuan Rokok

Industri rokok masih menjadi daya tarik bagi pelaku usaha untuk dikembangkan. Buktiny536047_620a, tak sedikit pelaku usaha yang melakuni industri yang berorientasi pada produksi rokok. Sayangnya, tak semuanya dilakoni dengan legal. (Iwan Andri, Bangil)

Ratusan slop rokok, dipamerkan petugas Bea dan Cukai di halaman Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Pasuruan, kemarin (2/9). Rokok-rokok itu hanya sebagian kecil, yang dipamerkan. Karena masih ada jutaan slop rokok yang berhasil diamankan oleh petugas Bea dan Cukai.

Rokok berbagai merk itu, merupakan rokok ilegal hasil temuan bea dan cukai. Dianggap ilegal, karena tidak sesuai dengan ketentuan. Di antaranya, industri yang dijalani tak memiliki izin. Lalu, pita cukai yang digunakan, palsu. Bahkan, ada pula yang tak memakai pita cukai.

Kemarin (2/9), jutaan
roko ilegal itu dimusnahkan. Pemusnahannya dilakukan di halaman KPPBC Pasuruan oleh petugas bea dan cukai yang menjadi saksi pemusnahann tersebut. Pihak Kejari maupuan Pengadilan Bangil turut serta dalam pemusnahan rokok-rokok yang berhasil diamankan itu.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi menututrkan, APBN mengalami tekanan. Ekonomi global belum pulih serta ekonomi sosial perlu mendapatkan p
erhatian. Hal yangperlu dilakukan , tak lain dengan meningkatkan penerimaan pendapatan.

Untuk meningkatkan penerimaan tersebut, bisa dilakukan dengan dua cara. Satu diantarnya, dengan mendorong pertumbuhan industri dan produksi dan cara lainnya, dengan memastikan semua yang ilegal diberantas. Supaya, tidak menggerus pangsa pasar legal. “Tentunya, juga agar pelaku usaha ilegal bisa beralih ke legal,” ujar Heru Pambudi dalam sambutannya, kemarin.

salah satu barang ilegal yang perlu untuk ditekan, tak lain adalah rokok. Pasalnya, industri rokok ilegal jelas merugikan negara dengan nilai yang tak sedikit. Karena rokok ilegal bisa merugikan negara miliaran rupiah.

Upaya pemberantasan rokok ilegalm memang terus didengungkan Bea dan Cukai. Contoh kasusunya, penggerebekan home industry rokok yang berada di wilayah Sukorejo, Kabupaten Pasuruan.

dari informasi masyarakat dan penelusuran intelegen Bea dan Cukai, didapati sebuah industri rokok skala rumahan. Namun, produksinya tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan mesin bermerek Korber Docoufle Max III M. R Nomor 7080 tahun 1986, ribuan rokok bisa dihasilkan. Bahkan, dengan mesin yang cukup tua itu, produsen rokok ilegal tersebut, dapat memproduksi antara 1.000 batang rokok hingga 1.800 batang rokok per menit.

Pabrik Rokok ilehal itu, disamarkan pada bangunan gudang pemiliknya, berinisial S asal Sukorejo. Pemilik industri rokok ilegal itu, menjalankan produksi tanpa dilengkapi izin sejak awal tahun 2016. Untuk menghilangkan kecurigaan, kegiatan produksi dilakukan pada malam hari, secara sembunyi-sembunyi.

Dari temuan itu, setidaknya petugas telah mengamankan 30 juta batang rokok sigaret kretek mesin golongan dua. Petensi kerugian negara pun mencapai Rp. 7,6 miliar karena aktivitas ini.

“kasusunya sekarang sudah kami limpahkan ke Kejaksanaan Negeri Kabupaten pasuruan di Bangil. Kami juga mengamankan mesin produski rokok yang digunakan. Mesin itu tanpa registrasi ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Rokoknya dimusnahkan dengan cara dipotong-porong,” tambahnya dalam proses rilis kemarin.

Heru Pambudi menambahkan pengungakapan kasis pelaku usaha rokok nakal di wilayah Kabupaten Pasuruan juga pernah dilakukan pada Juli 2016.Modus yang digunakan, dengan menempelkan pita cukai bekas pada kemasian rokok. Dalam kasus itu, petugas juga menetapkan MFR sebagai tersagka.

Tersangka menyembunyikan rokok tersebut dengan cara ditutupi karpet hitam pada mobil pribadinya. Dia tidak mampu menunjukan dokumen yang menyatakan rkok yang diangkutnya sudah sesuai dengan ketentuan UU. Petugas pun kemudian membawa MFR beserta barang butki 13.600 bungkus rokok ke KPPBC Pasuruan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Kasus-kasus tersebut, hanya sebagian kecil yang ditemukan Bea danCukai. Heru mencatata, ada ribuan kasusu penindakan hasil tembakau yang berhasil diungkap oleh Bea dan Cukai.

Sepanjang periode tahun 2013 hingg 2015, Bea Cukai berhasil menindak 2.768 kasus dengan jumlah barang bukti 202.716.059 batang rokok. Nilai barang hasil penindakan, mencapai Rp 261 miliar.

Sementara selama periode Januari hingga Agustsu 2016 ini, Bea Cukai telah menindaksebanyak1.282 kasus. Dengan jumlah barang bukti sebanyak 154.422.056 batang.Nilai barang itu sebesar Rp 114,7 miliar.

Menurut Heru, pelaku pelanggara yakni MFR akan dijerat pasal 54 dan atau pasal 56 UU Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun dan denda minimal 2 hingga 10 kali lipat nilai cukai. (hn)

Source: Radar Bromo
Date: Sabtu, 3 September 2016

 

Add Comment